Tentang RSBI: Catatan Seorang Alumni

by - Januari 10, 2013

*OOT: dikasih judul Catatan Seorang Alumni biar berasa  kyk film Gie: Catatan Seorang Demonstran XD

Ada dua pembahasan yang paling ruwet di dunia, ga ada yang ngalahin ruwetnya deh saya jamin. Yang pertama adalah carut-marut pengelolaan haji di Indonesia, dan yang kedua... sistem pendidikannya. It might be sad, but true. 

Kurang ruwet apa coba kalo soal haji? coba aja tanyakan ke keluarga atau sanak saudara yang sudah pernah, lihat aja berita-beritanya, ah sudahlah, mungkin Kemenag memang kementrian paling ruwet sedunia juga -_-



Nah kalo soal pendidikan, siapa yang nggak pusing lihat tiap ganti mentri ganti kurikulum, bahkan belum ganti mentri, kurikulum udah ganti lagi. Sekarang pada rame bahas RSBI yang belum ada sepekan lalu dicabut legalitasnya. Yang nyabut ya nggak tanggung-tanggung, langsung oleh Mahkamah Konstitusi.

Timeline rame, orang komentar ini itu, belum lagi pas ngecek facebook. Rame pada ingin bahas. Saya sendiri nggak ngikutin kasusnya dari awal, akibat jarang buka internet selain twitter (generasi macam apa ini? -__-) dan nonton TV. Nah yang ada malah curhat di twitter sebagai alumni RSBI....

Tapi saya belum tahhu lebih lanjut mengenai produk hukum terkait yang di cabut MK, jadi kyknya komentarnya ala saya aja lah ya...

RSBI mulai ramai sekitar 6 tahun belakangan. Sekolah saya bahkan mulai lebih awal, sejak tahun 2005 sudah memulai kelas R
SBI

Kalau tidak salah ingat, waktu itu ada 10 sekolah unggulan di Indonesia yang mendapat bantuan financial dari pemerintah untuk proyek ini

Waktu itu blm mulai ada dana BOS, jd sekolah belum gratis seperti sekarang. Dan kelas saya waktu itu dikenai biaya yg hampir sama dg rguler

Saya bilang hampir sama, karena memang ada perbedaan yang tidak signifikan dengan kelas reguler. Tidak sperti yg terjadi sekarang

Pada proses di kelas ini memang saya rasakan secara kapasitas kami dituntut untuk lebih di depan dibanding dengan teman-teman reguler

Kompentensi tambahan wajibnya adalah Bhs Inggris dan IT. Kami dapat extra kelas untuk intensif TOEFL dan pengembangan kemampuan IT


Kebayang ga, Smansa waktu itu masih full day, 06.45-15.00 senin sampai kamis full, dan kami masih harus hadir di extra hour itu

Belum lagi ditambah dengan tugas-tugas yang mmg to be honest, lebih berat dari kelas reguler :(

Hampir setiap kompetensi dasar kami diminta membuat presentasi brbahasa inggris, and FYI, PPT kami yg dipake bbrapa guru utk ngajar kls lain

Dan jangan salah kyk gitu anak-anak kelas masih pada aktif di OSIS, Remaja Masjid, dan ekskul2. Ada yang jadi koordinator bahkan ketua




All of all, saya termasuk yang merasa bersyukur pernah menjadi bagian RSBI, yang menurut saya itu memang konsep awal RSBI


Nggak kaget dg komentar wali kota Surabaya yg protes kenapa RSBI mesti dihapuskan, krn rata-rata di Jatim RSBI relatif lebih baik sistemnya

As I know, yg namanya RSBI itu sendiri sebagai jawaban dr tuntutan globalisasi akan SDM dengan kemampuan bahasa inggris dan IT yg lbh tinggi

Nah dibuat pilot project untuk percobaan dan persiapan, tujuannya ya sekolah-sekolah di Indonesia secara keseluruhan

Too bad, realitanya justru banyak diselewengkan. Dibikin ladang uang sama pihak sekolah. Ah, apa sih di Indonesia yang tdk diselewengkan?:(



Dan yang ada cuma label RSBI bermunculan dimana-mana, tanpa kualitas yang mumpuni, tapi siap mengeruk uang orang tua yg tidak paham benar

Saya pikir lumrah jika walkot surabaya tetap mau mempertahankan RSBI, karena disana memang sudah relatif terstruktur dan mumpuni

And to be honest, I feel bad for some competency which we can gain only through RSBI. Yes we can probably gain them from private school...

Tapi kan swasta pasti mahaaal, RSBI juga mahal, iya skarang. Tapi RSBI justru seharusnya jadi fasilitas publi untuk menyediakan servis itu

Yah, intinya sih lagi-lagi karena penyelewangan yah  coba sekarang muncul lagi kurikulum baru.. ah

Udah ah sekian pendapat saya sebagai alumni RSBI yang merasakan manfaat lebih dari RSBI yang memang pada track-nya sendiri

FYI, nggak semua RSBI diselewengkan. Jadi nggak usah latah dulu, dan kaji baik-baik sebelum komentar, biar ga asal sambar


Itu tweet saya sebelum ngobrol sama Farid sama Sani, kata Farid malah kayak curhat kekeke, dibilang juga catatan seorang alumni kan? :p Barusan tuker-tuker referensi dan pendapat sama mereka. Jadi, coba kita lihat, apa sih tuntutan mereka yang kemaren ngajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi? Jadi singkatnya isi gugatan oleh Koalisi Masyarakat Sipil Anti Komersialisasi Pendidikan adalah:


  • Bertentangan dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa dan kewajiban negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
  • Menimbulkan dualisme sistem pendidikan di Indonesia dan diskriminasi dan kastanisasi dalam bidang pendidikan
  • Bentuk baru liberalisasi pendidikan
  • Berpotensi menghilangkan jati diri bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia
So far kalau tanpa tahu apa payung hukum untuk RSBI ini, berdasarkan pengalaman saya yang sudah saya sebutkan diatas alasan yang dapat saya terima adalah poin 2 dan 3. Poin 1 dan 4 menurut saya kurang relevan. Oke, sekarang pasal apa sih yang permasalahkan? UU Sisdiknas 2003 No 20 Pasal 50 ayat 3 (CMIIW dalam hal penulisan UU-nya, terakhir belajar kewarganegaraan 4 tahun lalu di TPB kekeke)


"Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”. 

Nah, sampai pada poin ini saya menarik kesimpulan bahwa memang apa yang mendasari apa yang saya alami selama tiga tahun SMA memang agak timpang. Dulu waktu SMA mana ngerti soal beginian, rame-rame ikut test, masuk ya alhamdulillah. 


Mungkin permasalahannya disini, karena dari dasar hukumnya sudah berupa kastanisasi. Saya sendiri sangat menentang kastanisasi pendidikan. Kembali  ke pembahasan soal ketidakadilan bukankah kasusnya bukan cuma RSBI. Saya setuju RSBI dihapuskan legalitasnya jika itu cuma sekedar legalitas tanpa melihat kualitas apalagi terus makin menonjolkan sekat-sekat kelas sosial, tapi yang lebih perlu diperhatikan adalah pokok masalahnya yaitu di pemerataan pendidikan, dan ini nggak akan selesai dengan dihapusnya RSBI. 

As I know, basically yg jadi sekolah RSBI itu adalah sekolah-sekolah unggulan, maka tugas selanjutnya, kalo memang yang kita inginkan adalah pendidikan yang merata dan berkeadilan, ini harus menjadi perhatian kita semua.Sedih banget lihatnya ada kasta-kasta dalam pendidikan begitu. Saya aja muak kadang lihat sekolah saya banggain ini itu, bangga jadi terbaik se-ini dan seitu. 

Tapi faktanya memang nggak bisa diatasi semudah itu. Dari yang simple aja, yang namanya ortu pasti yang dikejar sekolah unggulan/favorit, yang namanya fresh graduate FKIP pasti yg dituju buat ngelamar kerja sekolah-sekolah bonafit, maka mengubah sistem pendidikan Indonesia itu memang perlu pendekatan yang revolusioner. Saya awalnya bilang perlu pake teori konflik sosial, tapi kata Sani teori konflik sosial nggak bisa dipake buat pendidikan. Kata Sani mestinya pake teorinya Thomas Lickona yg dikenal dengan Multiple Intelligences dan DAP (Developmentally Appropriate Practices) yang terus dikembangin sama dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, Ratna Megawangi. saya manut ajalah, saya taunya teori Porter soal analisis isu-isu strategis soalnya, jadi kalo memang pendekatanya revolusioner saya ikut pakarnya aja heheh.

Intinya, memperbaiki sistem pendidikan Indonesia nggak bisa diubah sedikit-sedikit, karena udah ruwetnya udah sangat sistemik, aduh saya udah makin ruwet nih, wassalam dulu yak hehehehe

You May Also Like

4 komentar

  1. ga ada masalah yang bisa diselesaikan dengan hanya membereskan dari satu sisi. harus dari banyak. seperti yang dibilang, sistemik. ya, karena semuanya berkaitan dengan sistem - sistem lainnya. yah, rakanda lebih mengenal tentang teori sistem lah yaa. hehehe

    berbicara tentang holistic approach dalam penyelesaian masalah, berbicara juga tentang pendidikan holistik yang dalam teori saya itu sejatinya dari pendidikan. dan itu, kurang muncul di RSBI / SBI. yah kalau ga bosen denger kata - kata saya, pendidikan yang memanusiakan. heuheu

    teori konflik sosial sangat bisa di terapkan menurutku.

    tulisan keren teh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, kalo aku teorinya pake teori-teori strategi, jadi yang namanya nyelesaiin masalah yang kompleks harus dicari isu strategisnya, kalo sudah didapat baru taktisnya, ada tulisan bagus dari reynald Kasali kalo nggak salah judulnya "Menembak RSBI ala hansip" cukup menjelaskan dari aspek manajemennya.

      Kita ya memang berkomentar dengan disiplin ilmu kita masing-masing ya adinda (ehem, adinda kekekee). Sebenernya aku kurang paham kalo pendidikan secara metodologisnya, meski berkecimpung dalam bidang pendidikan, dan karena dua orang tua guru, begitu juga kebanyakan saudara, kyknya darah pendidikan udah mendarah daging.Makanya aku tabrak aja pake teori konflik sosial, tapi aku pikir kalo dari segi politiknya bisa lah ya dipake :p

      Hapus
  2. weeew bener2 curhatnya anak alumni RSBI niiih.
    Izza makin kereeen euy menulis sambil mengeluarkan pendapatnya, te ou pe ;)

    itulah tugas besar para wakil rakyat dan juga mentri pendidikan, bagaimana meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan biar lebih bagus lagi.

    BalasHapus
  3. Za, baca juga dong "Catatan ringan seorang jurnalis". :D

    BalasHapus