Penilaian Allah Mungkin Lain
Kalau dalam posisinya, aku nggak yakin masih bisa setegar itu...
Banyak cerita mengalir dari dia, diselingi senyuman. Ketika dia berusaha tersenyum aku tau, ia sedang menghimpun kekuatan. Pasti satu hal yang snagat berat. Perasaan telah menghianati orang-orang yang dicintainya, yang memberinya kepercayaan. Aku pun akan begitu jika dalam posisinya, bahkan mungkin lebih terpuruk darinya, nauzhubillah... Ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk terus mengemban amanah yang telah diberikan kepadaku, aku mengemis keberuntungan pada-Mu, keberuntungan berupa kekuatan untuk terus berjalan kuat memikul amanah.
Gadis itu hanya berselisih beberapa bulan denganku. Mungkin dia berpikir aku lebih dewasa, sehingga cocok untuknya bercerita menyampaikan kegundahannya. Karena memang aku setahun lebih awal menuntut ilmu di IPB dari apda dia.
Aku berani bilang, dia gadis yang sangat tegar. Seorang yang sebenarnya hanif sekali. Mungkin, ya dia berbuat kesalahan. But, we all did, didn't we?
Semampuku, aku beri dia motivasi... Tentang harus tetap positif thinking...
Ada satu hal yang ia tuturkan padaku, mengenai nadzar. Ia telah melanggar nadzarnya. Tahajud seumur hidup, tanpa celah. Seseorang yang ia anggap lebih megerti tentang agama, berkata padanya, nggak boleh melanggar nadzar, dan kalo kemudian kita merasa nggak bisa menuhi nadzar dan menggantinya dengan yang lain, artinya itu mempermainkan Allah. Hmm, mungkin benar demikian. Pesan moralnya, ukur diri dengan seksama kalo mau bernadzar.
Tapi, aku berpikir, ingat kisah tentang seorang pemuda yang mendatangi Nabi dengan pengakuan dosa. Ia telah menodai kesucian seorang perawan yang telah meninggal dan telah dikebumikan. Ia gali jenazah itu, kemudian memperkosanya. Nabi amat marah, dan mengusirnya. "Pemuda fasik! Allah tidak akan mengampunimu!"
Pemuda itu pergi dengan perasaan hancur, dosanya tak terampuni, bahkan Nabi yang mengatakan itu.
Akan tetapi, Allah punya pandangan lain, amat lain... Karena Allah yang paling tahu, satu sudut dalam hati yang tidakan pernah mampu terlihat oleh manusia. Ia menegur Nabi, karena telah mengusir pemuda yang ingin bertaubat itu, padahal Allah sesungguhnya telah mengampuninya karena ketulusan hatinya dalam bertaubat.
Jadi apakah aku salah, jika aku tetap menyuruhnya berpikir positif, karena penilaian Allah mungkin lain? Allah yang menilai hati kita. Ibnu Athailah dalam al Hikam mengatakan, "Seseorang yang merasa dirinya paling tawadhu' adalah orang yang amat takabur". Karena itu kuncinya adalah, kepasrahan diri kita, perasaan merasa berdosa kita.
"Tahajud, tentu harus sekuat tenaga terus berusaha kita tunaikan, tapi tetap jangan pernah merasa pesimis dengan ampunan Allah... Lakukan yang terbaik yang bisa kamu berikan. Jadikan masa lalu itu sebagai pelajaran, penasehat kita, bukan hantu yang terus membayangi kita"
Nabi Adam terampuni dengan kepasrahannya kepada Allah, setelah beliau merasa teramat berdosa melanggar larangan Allah. Doanya diabadikan dalam Al-Quran...
"Qoola Rabbana dlolamna anfusanaa waillam taghfirlanaa watarhamnaa, lanakuunannna minal khoosiriin"
"Mereka berdoa, Tuhan kami, kami telah menganiyaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan memberi rahmat pada kami, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang merugi"
Juga Nabi Yunus, dalam perut ikan Paus setelah melanggar amanah karena putus asa dengan kaumnya. "Laa ilaa hailla Anta, Subhaanaka inni kuntu minadhoolimiin" "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dlolim."
"Tetap semangat ya!" Kataku sebelum kami berpisah... Ia tersenyum. Aku berdoa dalam hati, semoga pertemuan kami bisa membawa semangat baru baginya, untuk tetap tegar. Juga tentu saja, pelajaran yang berharga buatku sendiri...
Sudah cukup tawadhu' kah kamu Za? Tentu saja belum!
Allah, jadikanlah kami hamba yang cerdas, pandai membuat bingkisan kekhusyuan dalam sholat, bingkisan ikhlas dalam sedekah, bingkisan tulus dalam air mata, bingkisan setia dalam zikir-zikir kami, bingkisan kata-kata indah dalam memuja-Mu setinggi-tingginya, dan merendahkan diri serendah-rendahnya saat kami bersujud... Amiin