Membaca dan Menulis
Assalamualaykum...
Pada satu kesempatan, perpustakaan SD saya sedang melakukan perombakan. Buku-buku lama akan diganti dengan buku-buku baru. Sore itu kebetulan saya masih di sekolah, dan dengan hebohnya langsung nanya ke petugas apa boleh saya simpan di rumah buku-buku yang akan dibuang itu. Hasilnya, seminggu itu saya banyak habiskan dengan membaca kisah-kisah petualangan Tom Sawyer, kisah 4 sahabat yang berkemah di sebuah desa, kisah dilema amplop merah jambu yang ketumpahan susu cokelat, kisah pohon bonsai dan banyak lagi. Plus, karena hari itu saya ikut bantu-bantu beresin perpustakaan, saya dihadiahi 5 buku cerita baru oleh petugas perpus, ada kisah Omotaro dan Momotaro, kisah Kebun Anggur, Jejak Sang Guru dan sebuah buku berbahasa inggris yang saya sudah lupa judulnya.
Sedari kecil sangat suka menulis. Menulis apa pun. Dulu karena SD saya tidak punya mading, saya nodong guru Bahasa Indonesia saya untuk mengaktifkan kembali mading, beliau kemudian mengirim cerita. Akhirnya kisah berjudul “Pohon Angker” yang saya tulis waktu kelas 4 SD itu menjadi awal aktifnya kembali mading sekolah kami. Sejak itu, setiap dua minggu sekali, Pak Toni mengganti isi mading dengan tulisan karya para siswa.
Meski ga istiqomah-istiqomah banget, saya juga cukup rajin nulis diary. Lebih sering isinya tulisan-tulisan absurd yang mungkin hanya saya yang bisa mengerti haha. Dulu pas SMA, hobi menulis saya berkolaborasi dengan hobi menggambar saya, jadilah saya sering bikin semacam komik strip, atau kadang cuma gambar-gambar aneh yang saya corat-core di binder sahabat saya Vidia :D
Daftar buku bacaan saya pun cukup alhamdulillah. Kelas 5 SD saya sudah tamat 2 buku Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan di Bawah Lindungan Ka’bah. Kisah-kisah anak terjemahan seperti Secret Seven, The Naughty Girl, Tom Sawyer serta dongeng-dongen Hans Christian Anderson juga jadi favorit saya. Semasa SMP jumlah sekaligus jenis bacaan saya meningkat drastis, dunia teenlit, dunia komik-komik Jepang yang benar-benar menghipnotis saya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan sekolah atau perputakaan daerah yang hanya tinggal menyebrang jalan kalau dari sekolah saya. Dari sana kegemaran saya menulis cerita fiksi bangkit kembali. Kalau SD saya gemar menulis kisah petualangan dan detektif ala anak SD, di SMP, mulailah kisah-kisah dunia puber saya. Ah, kalau buka-buka buku-buku catatan yang malah beralih jadi buku cerita saya, malu sendiri jadinya. Cupu abis, haha.
Semasa SMA adalah masa-masa menulis saya yang paling subur sepertinya. Kelas 1 SMA saya mulai mengenal dunia blog. Dari sana saya belajar lebih banyak menulis, berinteraksi dengan orang-orang yang juga suka menulis. Serunya, persahabatan saya yang berawal dari dunia blog itu awet banget sampe sekarang. Selain itu banyak hal yang menginspirasi saya untuk menulis. Kawan-kawan sekelas saya yang ajaib, cerita-cerita di Remaja Masjid Sekolah, di OSIS, ah, Smansa Gresik memang selalu penuh cerita.
Saya paling produktif menulis ketika kelas tiga, entah kenapa. Mungkin saat itu saya memang paling sering mengalami turbulensi hati, haha. Benar, menulis itu menyembuhkan!
Menulis itu bikin kita makin bersyukur, saya sepakat itu. Melihat catatan-catatan dulu, bagaimana saya menemui kesulitan, bertekad menghadapinya, kemudian Allah menguatkan dan saya bisa mewujudkan… Makanya setuju banget kalau kita mesti punya catatan harian :)
Saya, tak punya latar pendidikan sastra selain pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia selama SMA yang hanya 2x2 jam setiap minggunya. Bolehlah mohon maklum jika isi blog saya lebih sering awut-awutan tata bahasanya. Kadang bilingual, kadang sopan dan serius, kadang sekedar curhat dan unek-unek, kadang brutal kayak preman dengan gaya elo-gue-an. Tapi kalau boleh dibilang, saya sangat menggemari sastra. Sejak kecil saya kutu buku. Buku apa saja yang ada selalu ingin baca. Buku cerita fiksi adalah favorit saya.Benarkah kini bangsa kita telah rabun membaca dan lumpuh menulis?” (Taufik Ismail, 1998)
Pada satu kesempatan, perpustakaan SD saya sedang melakukan perombakan. Buku-buku lama akan diganti dengan buku-buku baru. Sore itu kebetulan saya masih di sekolah, dan dengan hebohnya langsung nanya ke petugas apa boleh saya simpan di rumah buku-buku yang akan dibuang itu. Hasilnya, seminggu itu saya banyak habiskan dengan membaca kisah-kisah petualangan Tom Sawyer, kisah 4 sahabat yang berkemah di sebuah desa, kisah dilema amplop merah jambu yang ketumpahan susu cokelat, kisah pohon bonsai dan banyak lagi. Plus, karena hari itu saya ikut bantu-bantu beresin perpustakaan, saya dihadiahi 5 buku cerita baru oleh petugas perpus, ada kisah Omotaro dan Momotaro, kisah Kebun Anggur, Jejak Sang Guru dan sebuah buku berbahasa inggris yang saya sudah lupa judulnya.
Sedari kecil sangat suka menulis. Menulis apa pun. Dulu karena SD saya tidak punya mading, saya nodong guru Bahasa Indonesia saya untuk mengaktifkan kembali mading, beliau kemudian mengirim cerita. Akhirnya kisah berjudul “Pohon Angker” yang saya tulis waktu kelas 4 SD itu menjadi awal aktifnya kembali mading sekolah kami. Sejak itu, setiap dua minggu sekali, Pak Toni mengganti isi mading dengan tulisan karya para siswa.
Meski ga istiqomah-istiqomah banget, saya juga cukup rajin nulis diary. Lebih sering isinya tulisan-tulisan absurd yang mungkin hanya saya yang bisa mengerti haha. Dulu pas SMA, hobi menulis saya berkolaborasi dengan hobi menggambar saya, jadilah saya sering bikin semacam komik strip, atau kadang cuma gambar-gambar aneh yang saya corat-core di binder sahabat saya Vidia :D
Daftar buku bacaan saya pun cukup alhamdulillah. Kelas 5 SD saya sudah tamat 2 buku Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan di Bawah Lindungan Ka’bah. Kisah-kisah anak terjemahan seperti Secret Seven, The Naughty Girl, Tom Sawyer serta dongeng-dongen Hans Christian Anderson juga jadi favorit saya. Semasa SMP jumlah sekaligus jenis bacaan saya meningkat drastis, dunia teenlit, dunia komik-komik Jepang yang benar-benar menghipnotis saya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan sekolah atau perputakaan daerah yang hanya tinggal menyebrang jalan kalau dari sekolah saya. Dari sana kegemaran saya menulis cerita fiksi bangkit kembali. Kalau SD saya gemar menulis kisah petualangan dan detektif ala anak SD, di SMP, mulailah kisah-kisah dunia puber saya. Ah, kalau buka-buka buku-buku catatan yang malah beralih jadi buku cerita saya, malu sendiri jadinya. Cupu abis, haha.
Semasa SMA adalah masa-masa menulis saya yang paling subur sepertinya. Kelas 1 SMA saya mulai mengenal dunia blog. Dari sana saya belajar lebih banyak menulis, berinteraksi dengan orang-orang yang juga suka menulis. Serunya, persahabatan saya yang berawal dari dunia blog itu awet banget sampe sekarang. Selain itu banyak hal yang menginspirasi saya untuk menulis. Kawan-kawan sekelas saya yang ajaib, cerita-cerita di Remaja Masjid Sekolah, di OSIS, ah, Smansa Gresik memang selalu penuh cerita.
Saya paling produktif menulis ketika kelas tiga, entah kenapa. Mungkin saat itu saya memang paling sering mengalami turbulensi hati, haha. Benar, menulis itu menyembuhkan!
Menulis itu bikin kita makin bersyukur, saya sepakat itu. Melihat catatan-catatan dulu, bagaimana saya menemui kesulitan, bertekad menghadapinya, kemudian Allah menguatkan dan saya bisa mewujudkan… Makanya setuju banget kalau kita mesti punya catatan harian :)
0 komentar