Dear Allah, Doaku Senja Ini...
Pengakuan-pengakuan tentang kesalahan, kecerobohan, dan kelemahan rasanya tak pernah habis dari diri ini. Mengecewakan orang lain, mengecewakan diri sendiri. Komitmen (terutama dari diri sendiri) yang banyak terbengkalai, semangat yang pasang-surut, keraguan… semuanya, sepertinya (kemungkinan besar) hanya implikasi dari jauhnya diri ini dari fitrahnya, dari Pelindungnya, dari Rumahnya…
Segala nikmat yang datang bertubi-tubi, kenapa malah membuat lalai, membuat lemah… Sombong kah? Merasa mampu kah tanpa-Nya? Sama sekali tidak.
Rabbku, Yang menggenggam jiwa ini, Yang Menguasai hati ini, Yang memahami diri ini amat jauh melebihi diri ini sendiri… Yang Maha membolak-balikkan hati ini, aku ingin kembali, di pintu-Mu yang selalu terbuka, di pintu-Mu yang tak pernah tertutup, di pintu-Mu yang selalu menunggu kami, hamba-hamba-Mu untuk kembali…
Rabbku, tempat muara segala rasa dan rindu, aku tak pandai bermanis kata, tak bisa hadirkan puisi doa yang romantis penuh personifikasi dan asosiasi untuk-Mu… Doaku senja ini hanya berupa pengakuan, pengakuan tentang lemahnya aku, tentang bersalahnya aku, layakkanlah aku untuk kembali, memohon kepada-Mu dengan sepenuh hati, agar kembali menghamba pada-Mu, memohon kekuatan untuk setiap ujian yang datang…
Dear Allah, aku tak mampu jauh, maka aku mohon, jagalah penjagaanku atas-Mu, agar aku terus mendekat selangkah demi selangkah, sehingga Engkau kan semakin dekat seribu langkah demi seribu langkah...
Rabb, aku titipkan orang-orang terkasihku padaMu, wahai Sebaik-baik Penjaga… Karuniakanlah orang tuaku kehidupan yang berkah, jadikanlah aku dan adik-adikku, anak-anak yang mampu meringankan beban mereka di Yaumul Hisab, memudahkan langkah mereka menuju syurga, aku rindu mereka ya Rabb… Hanya kekuatan doa yang mampu hubungkan ribuan kilo bentangan jarak ini :’)
Dan untuknya, aku titipkan sepenggal doa yang sederhana ini… Aku sangat paham Engkau jauh lebih mengerti dia, Engkau jauh lebih menyayanginya, Engkau jauh lebih mencintainya… Tentang rasaku ya Rabb, untuk mengakuinya aku malu. Engkau yang paling paham, dari mana getar ini lahir. Hati ini tergetar oleh kebaikan dan kedekatannya paa-Mu. Rasa penasaran ini terus muncul dengan karakternya yang penuh kejutan-kejutan kebaikan, nasehat-nasehat yang menyejukkan…
Aku sangat paham betapa rapuh apa yang sedang coba kami jalani, sangat rapuh jika tanpa kekuatan dari-Mu. Ada niat tulus yang menjadi benih, yang selalu ingin kami tumbuh suburkan, di tengah segala keegoisan, kesalahpahaman, perselisihan, ketidakmengertian. Bahwa kami ingin menjalani ini semua, meletakkan keyakinan di atas semua azam kami, agar Engkau genapkan ikatan hati ini sampai ke syurga, melalui syariahMu yang mulia. Maka teguhkanlah langkah kami untuk menjemput janji-janji-Mu, jauhkan kami dari marabahaya dan maksiat pada-Mu, dan lindungilah selalu orang-orang yang kami sayangi…
Ya Rabb… senja ini indah, kala aku bisa menyapaMu dengan hati yang tenang dan tangan menengadah… alhamdulillah :’)
0 komentar